Tampilkan postingan dengan label anak muslim. Tampilkan semua postingan

Info Dari WA : WASPADA PROPAGANDA TERSELUBUNG DALAM PARENTING...!!! *MENDIDIK ANAK DENGAN TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN KATA 'JANGAN' ADALAH AJARAN YAHUDI DAN LIBERAL

WASPADA PROPAGANDA TERSELUBUNG DALAM PARENTING...!!!
*MENDIDIK ANAK DENGAN TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN KATA 'JANGAN' ADALAH AJARAN YAHUDI DAN LIBERAL*

Menarik... Rangkuman dr ceramah ustadz faudhil adzim, abah ihsan n budi azhari

��ADA APA DENGAN KATA ��JANGAN��

Untuk para orang tua & pendidik harap di simak dengan seksama....!!!!

Kekeliruan Buku Pendidikan:

(1). Mengharomkan kata JANGAN��

Salah seorang pendidik pernah berkata,
��"Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu
��dunia psikologi dan
��dunia pendidikan."

Karena itulah, berangkat dari hal ini.
Kita akan mengupas beberapa "KEKELIRUAN" pada
����buku-buku
��pendidikan,
��seminar,
��teori pendidikan, dll.
yang kadang sudah menjangkiti beberapa para
��pendidik muslim,
��para ayah dan ibu.

Beberapa waktu lalu, ana sepakat dengan hal ini.
Maka dengan tertulisnya artikel ini,
ana BERTAUBAT kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dari bahayanya doktrin di atas.

��Mari kita lihat, beberapa perkataan-perkataan
'DALAM PENDIDIKAN' tentang larangan mengucapkan kata ��JANGAN pada anak,

��Diantaranya Ayah Edy,
dia mengatakan pada buku 'Ayah Edy Menjawab hal. 30,

"..gunakan kata-kata preventif, seperti
��hati-hati,
��berhenti,
❌diam di tempat, atau
⛔stop.
Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata JANGAN karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata JANGAN..."

��Pada media online, detik.com, pernah menulis judul artikel :

'Begini Caranya Melarang Anak
Tanpa Gunakan Kata 'Tidak' atau
JANGAN,
bertuliskan demikian,

"...Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata JANGAN atau tidak..."

��Pada sebuah artikel lain, berjudul,
"Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN”
tertulis,

"Kata JANGAN akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orang tua,
maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak..."

��Nah,
inilah SYUBHAT (KERAGUAN).��

��Indah nampaknya,
tapi di dalamnya terkandung "bahaya yang kronis".��

Mari kita bahas syubhat yg mereka gelontorkan.

Sebelumnya,
��kalau kita mau teliti,
mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata JANGAN,
apakah ini punya landasan dalam al-Qur'an dan hadits?��

��Apakah semua ayat di dalam al-Qur'an tidak menggunakan kata "Laa (JANGAN)"?

��Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan JANGAN.

��Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500
kalimat dalam ayat Al-Qur’an
menggunakan kata JANGAN.

✊��Allohu Akbar,
banyak sekali!

��Mau dikemanakan kebenaran ini?
Apa mau dibuang?
Dan diadopsi dari teori dhoif?

��Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan),
maka kita tanya,
��apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim?

Surah Luqman ayat 12 sampai 19.
��Kisah ini dibuka dengan penekanan Allaah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah,
��orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)

��Apa bunyi ayat yang kemudian muncul?

Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,

“Wahai anakku,
��JANGANLAH engkau menyekutukan Alloh.
Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.

Inilah bentuk tindakan preventif yang divaliditas dalam al-Qur'an.

Sampai pada ayat 19,
ada 4 kata “laa” (JANGAN)
yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya,
yaitu
��“laa tusyrik billah”,
��“fa laa tuthi’humaa”,
��“Wa laa tusho’ir
khoddaka linnaasi”, dan
��“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.

Luqman tidak perlu mengganti kata “JANGAN menyekutukan Alloh” dengan
(misalnya)
“esakanlah Alloh”.

Pun demikian dengan “Laa” yang lain,
tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

��Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti "JANGAN" dengan "diam/hati-hati"?
��Karena ini bimbingan Alloh.��
Perkataan "JANGAN" itu mudah dicerna oleh anak, ��
sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.

Dan perkataan JANGAN juga
➕positif,
➖tidak negatif.

Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta'aala,
��bukan teori pendidikan Yahudi.

Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman?

��Tidak ada!

Luqman bukan nabi,
tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. ��

Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.��

Membuang kata “JANGAN” justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

��Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam
agama,
tetapi karena lebih memilih berdamai.

��Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa,
melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.

��Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah,
tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Nas alulloha salaman wal 'afiyah.

Anak-anak hasil didikan tanpa “JANGAN”
berisiko tidak punya
“sense of syariah”
dan keterikatan hukum. ��

Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,

tidak perhatian lagi dengan
"amar ma'ruf nahi mungkar",
tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah,
karena dalam hatinya berkata

“itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.��

��Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi

“mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Itulah sebenar-benar paham liberal,
yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan.

Jadi,
yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.

Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam

��dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

��Astagfirulloh...
Semoga Alloh subhanallohu wa ta'aala memberi taufik kepada kita semua.....

Aamiin......

cps wa
Mari kita renungkan bersama.

*--------------------------*
Postingan ini sdh saya tanyakan ke ahli parenting

Tepuk Anak Soleh ? Bolehkah ?

TEPUK ANAK SHALIH ?

https://almanhaj.or.id/4841-tepuk-anak-shalih.html

Pertanyaan.

Ustadz ! Bolehkah kita mengajarkan macam-macam tepuk tangan  kepada anak-anak. Misalnya tepuk  wudhu, tepuk malaikat, tepuk anak shaleh dan lain-lain. Syukran

Jawaban.

Sesungguhnya cukup bagi kita untuk mengajari anak-anak kebaikan-kebaikan yang mereka butuhkan. Seperti, membaca al-Qur’ân, hafalan surat-surat pendek atau ayat-ayat pilihan, hafalan hadits, adab-adab, doa dan dzikir sehari-hari dan lain sebagainya. Demikian juga kita boleh mengajarkan permainan yang mendidik dan bermanfaat untuk hiburan sebagai selingan dari kejenuhan.

Adapun menyibukkan anak-anak dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat, apalagi dengan syubhat dan maksiat, sepantasnya tidak dilakukan. Seperti mengajari dan menyibukkan anak-anak dengan macam-macam tepuk tangan, nyanyian atau nasyid yang diajarkan di sebagian TK, TPA atau lembaga pendidikan lainnya. Terlebih lagi, tepuk tangan itu termasuk kebiasaan dan cara ibadah orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

 وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Shalat  mereka (orang-orang musyrik) di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. [al-Anfâl/8:35]

Imam Ibnu Abi Hâtim rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, “Dahulu suku Quraisy mengelilingi (thawaf) Ka’bah dengan telanjang sambil bersiul dan bertepuk tangan.”

Mujâhid rahimahullah berkata, “Mereka melakukannya hanyalah untuk mengacaukan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . ”

Sedangkan az-Zuhri rahimahullah mengatakan, bahwa mereka melakukannya untuk mengejek orang-orang yang beriman. [Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr]

Dalam sebuah kitab yang membahas tentang metode pengajaran anak-anak, penyusunnya yaitu syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu rahimahullah menyeru kepada para guru dengan mengatakan, “Waspadailah bersiul dan bertepuk tangan, karena itu menyerupai para wanita, orang-orang fasik dan orang-orang musyrik. Jika ada suatu yang menakjubkanmu maka ucapkanlah ‘Maa syaa Allaahu’ atau ‘Subhaanallaahu’”.  [Nida’ ilaa Murabbiyyîn wal Murabbiyyât]

Dengan keterangan ini maka seharusnya macam-macam tepuk tangan itu dihilangkan, apalagi berkaitan dengan ibadah atau agama, dikhawatirkan hal itu termasuk bid’ah atau perbuatan yang memperolok-olok agama dengan tanpa disadari.

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1432H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

xiaomi