Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

DZAIF

*Huzaifah bin Dr.Taufik Ridho, LC (alm)*

DZAIF-

Aku diperjalanan pulang menuju Berlin selepas mengisi pengajian di kota Köthen, kota kecil di Negara bagian Sachsen Anhalt. 2,5 jam perjalanan dari Berlin menggunakan kereta. Aku rutin 2 minggu sekali mengisi pengajian mahasiswa Indonesia di kota itu. banyak mahasiswa Indonesa yang mengambil Studienkolleg atau penyerataan di kota itu. Di Jerman, orang Luar Negri wajib mengikuti Studienkolleg selama satu tahun sebelum kuliah Bachelor.

Biasanya kota Köthen hanyalah tempat transit sebelum melanjutkan kuliah di Kota besar. Dahulu, akupun menyelesaikan Studienkolleg di kota itu. dan sekarang aku diminta untuk rutin mengisi pengajian di kota itu. walaupun lelah dan mengorbankan banyak hal, tapi aku berharap hal ini menjadi sebuah amal kebaikan untukku.

Bukan hanya aku yang dikirim keluar kota, ada beberapa temanku juga di kirim untuk mengisi pengajian atau membina mahasiswa-mahasiswa baru di kota kota lain, seperti Leipzig, zittau, Wismar dan lainnya. Kami Berharap mahasiswa itu dapat berislam secara lebih baik lagi dengan hadirnya kami disana. Karena agak sedikit miris memang keadaan umat Muslim Indonesia sekarang. Baca Quran yang sebenarnya krbutuhan primer, tapi mereka tidak dapat menguasainya. Atau shalat yang sering dilalaikan, adanya kami disana adalah untuk mengingatkan akan kepentingan berislam dengan baik dan benar, Karena kunci menuju ke kehidupan abadi yang menyenangkan adalah keislaman yang sesungguhnya.

Di kereta, aku duduk di sebelah orang mabuk. Pakaiannya rapi, dia tertidur dengan wajah yang merah. Malam sabtu atau minggu memang budaya orang jerman untuk berpesta sampai pagi buta. Kebetulan aku baru selesai mengisi pengajian pukul 22.00, lalu menggunakan kereta pukul 23.00 untuk pulang ke berlin. Sampai di berlin sudah pagi atau dini hari.

Si penumpang mabuk itu terbangun, dia Nampak terkaget. Sepertinya dia bablas. Dia lalu bergegas turun di stasiun pemberhentian berikutnya, di Ostbahnhof. Sejenak kemudian Dia turun, lalu pintu kereta kembali tertutup. Tempat tinggalku masi beberapa stasiun lagi dari Ostbahnhof.

Aku sesekali melihat sekeliling, kosong, tidak ada siapapun. Aku memejamkan mata, mengucapkan syukur kepada Allah. Aku mebuka mata dan melihat ke kursi si penumpang mabuk tadi, “MasyaAllah” gumamku. Si penumpang mabuk menjatuhkan dompetnya. Aku langsung memungutnya dengan niat untuk memberikan ke pihak berwenang. Kulihat isi dompetnya, ada uang 100 euro dan 50 euro, serta kartu ATM dan kartu Kredit lalu juga ada kartu nama. Tertera disitu nama Philip Gander, juga tertera nomer teleponnya.

“Ada nomer teleponnya, hmm, aku serahkan saja besok langsung kepadanya” pikirku dalam hati, aku berniat mengembalikannya langsung. Tidak menyerahkan ke pihak stasiun. Kebetulan, besok aku akan jalan-jalan bersama adikku yang sedang liburan ke Berlin. Adiku kuliah di Hannover, dan sering berkunjung ke berlin, atau sebaliknya, aku yang berkunjung ke Hannover. Aku segera mengirim pesan kepada adikku

“Shofi, sebelum kita jalan-jalan, tolong belikan makanan Indonesia, nasi goreng atau rendang ya, di restoran Nusantara, di bungkus. Danke shof ” pesan ku kirimkan.

-DZAIF-

“Halo, guten Morgen. Sind Sie herr Philip” tanyaku di telepon

“Halo, Morgen. Ja bin ich Philip, Wer?” suara di telepon menjawab.

“Ich bin Mush’ab, ich habe Ihr Portemonnaie gefunden. An der S-bahn” aku menjelaskan bahwa aku telah menemukan dompetnya di S-Bahn atau semacam Kommuterline di Jakarta.

“Ah jaa, pantas saja, aku mencarinya dimana-mana, tapi tidak ketemu. Terimakasih. Kapan aku bisa mengambilnya?” tanyanya dalam bahasa jerman.

“hari ini anda bisa mengambilnya. Bagaimana jika kita bertemu pukul 12.00 di Hauptbahnhof?” tanyaku

“Okke, kein Problem. Hari ini pukul 12.00 di Hauptbahnhof. Terimakasih banyak ya. Sampai jumpa nanti, tschüss”

“Okke. Sampai nanti. Tschüss” hubungan telepon terputus. Segera kutelepon adikku.

“assalamualaykum shofi, kamu dimana? Sudah beli pesanan abang belum?” tanyaku langsung

“waalaykum salam bang. Sudah nih. Lagi menuju ke Hauptbahnhof” jawab adikku

“okke deh, abang 10 menit lagi sampai di Hauptbahnhof. Sampai ketemu InsyaAllah. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

aku membungkus dompet menjadi kado, ku isi dengan minuman jahe seduh dua bungkus dan kacang garuda yang biasa kubeli di toko Indonesia di Berlin. Semoga herr Philip senang menerimanya. Semoga ini bisa menjadi kebaikan untuk dimasa yang akan datang.

-DZAIF-

aku dan adikku telah sampai di Hauptbahnhof. Bangunan super megah yang dimiliki stasiun utama kota berlin ini menyihirku. Bangunan yang sungguh Modern, bertingkat-tingkat hingga kebawah tanah. Arsitektur yang modern dengan dilapisi kaca transparan. Hauptbahnhof berlin memang di bangun baru-baru ini, ketika Jerman menjadi tuan rumah piala dunia 2006. Oleh karena itu, bangunannya berbeda dengan bangunan stasiun lainnya yang lebih klasik.

Teleponku berbunyi, aku langsung mengangkatnya.

“Halo, wo sind Sie?” Tanya suara di seberang telepon.

“Halo, aku di depan Kaisers herr Philip, memakai mantel abu abu, wajahku asia, aku orang Indosesia” jawabku

“Ah oke, aku melihatmu. Aku menuju kesana”

“baik herr Philip” telepon ditutup.

Dari kejauhan terlihat orang Jerman mengenakan mantel hitam, dengan kaca mata dan sepatu pantopel. Sangat rapi dan Elegan. Dia mendatangi kami. Tapi ada yang janggal, mukanya seperti tidak senang saat dia melihat aku bersama adikku. Adikku memang mengenakan Jilbab yang agak lebar, mungkin itu yang membuat dia tidak senang. Di Eropa sedang muncul isu yang tidak enak tentang Islam. Kejadian pembunuhan wartawan yang sering membuat karikatur nabi Muhammad oleh seorang oknum kembali mencoreng nama Islam. Aku sebenarnya tidak menyalahkan aksi itu sepenuhnya, tapi dampak yang orang Islam di Eropa rasakan sangat terasa. Media mainstream yang menjadi konsumsi sehari-hari warga eropa, beramai-ramai memberitakan hal yang buruk tentang Islam. Padahal, Ulama Eropa termasuk di dalamnya, yang paling vocal Prof.DR.Thariq Ramadhan, cucu dari Hasan Al Banna mengutuk hal tersebut. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kejadian itu telah terjadi. Islamphobia mungkin akan kembali terangkat di Eropa. Aku berlindung kepada Allah dari segala Ujian.

Muka orang jerman itu semakin masam.

“Mana Dompetku?” dia bertanya agak kasar.

“Ah, herr Philip. Silahkan ambil. Ini dompet anda” aku tersenyum dan langsung memberikannya sebuah kado yang berisi dompetnya. Tanpa basa basi, karena keadaan yang memang tidak memungkinkan untuk itu. terlihat sekali kebencian diwajah herr Philip.

“Apa ini?” Herr Philip menggeretak.

“Silahkan di buka herr Philip, didalam kado itu ada dompet anda.” aku kembali tersenyum. Dia segera membuka kado yang kuberikan, dan mukanya agak sedikit lega ketika dia mendapati dompetnya berada didalam. Dia mengecek isi dompetnya berulang kali.

“Apa ini?” dia bertanya tentang Minuman jahe yang kuselipkan.

“Itu minuman Jahe khas Indonesia herr Philip. Di seduh dengan air hangat. Khasiatnya dapat menghangatkan tubuh di musim dingin. Itu hadiah untukmu, dan juga ada kacang garuda, ini sangat nikmat herr Philip. Aku biasa memakannya sebagai cemilan. Dan satu lagi, ini ada makanan khas Indonesia yang barusan kami beli dari restoran Nusantara, restoran khas Indonesia yang berada di Berlin. Namanya Rendang, di suatu Forum Internet, rendang ini adalah salah satu makanan paling enak di Dunia.” Aku tersenyum menjelaskan. Tapi tiba tiba wajah Herr Philipp berubah.

“NEIIIINNN!!!!” dia berteriak nein berulang ulang. Cukup keras.

“Ada apa herr Philip” aku bertanya kaget, bahkan sangat kaget. Herr Philipp seperti orang gila pada saat itu, dia tiba-tiba berteriak.

“Nein. Nein. Aku tidak percaya ini” Herr Philip terus berteriak nein.

“Tolong jelaskan Herr Philip.” Aku dan adikku panik melihat kelakuan Herr Philip yang berubah.

“kalian Muslim, tidak seperti yang diberitakan oleh media. Kalian bukan terrorist, mana mungkin terrorist sebaik ini. Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini. Sungguh tidak percaya. Di dalam pikiranku, semua muslim adalah jahat. Adalah biadab! Mereka radikal dan cinta kekerasan. Tapi setelah melihat kalian, tidak mungkin. Aku tidak percaya. Kalian sungguh baik. Aku yang kehilangan dompet, tapi kalian yang memberi hadiah untukku. Unmöglich.” Terlihat mata herr Philip berkaca kaca. Adikku bahkan sampai menitikan air mata. Hatiku pun haru, gerimis akan luapan perasaan. Hal kecil seperti ini dapat erubah persepsi dia sampai 180 drajat.

“Islam tidak seperti itu herr Philip” aku menjelaskan tentang Islam yang damai, islam yang menentramkan.bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang tanpa kekerasan. Hari itu kami banyak berbincang tentang keislaman. Panjang lebar kami berbincang pada hari itu. adikkupun menjelaskan tentang jilbab dan gunanya untuk wanita. Alasan-alasan yang cukup logis kami terangkan kepadanya. Cukup banyak pertanyaan yang sulit yang diajukan oleh herr Philipp, tapi Alhamdulillah kami dapat menjawabnya dengan baik.

Setelah kejadian itu, aku sering bertemu dengan Herr Philip. Dia adalah seorang Pengacara yang hebat. Aku menjelaskan tentang Islam yang sesungguhnya. Islam yang Indah dan Anggun, lalu mengenalkannya kepada seorang Ustadz di salah satu Mesjid di Berlin, agar dia lebih dapat mendalami Islam. Hingga Akhirnya, Allahu akbar, dengan kuasa Allah, Hidayah telah sampai kepadanya. Allahu Akbar!!!

-DZAIF-

Aku ingin menjadi Diplomat Islam sejati seperti Mush’ab bin Umair, seperti Said Ramadhan, seperti Youssef Nada, seperti Ustadz Mata, dan juga seperti Ayahku. Cita cita ini tersalurkan dari darah Ayahku, aku beruntung di lahirkan dalam Rahim Tarbiyyah Islam. Inilah aku, si Anak Singa. Anak dari Ayahku, anak dari ibuku yang bergelut dijalan terbaik.

*“JALAN PARA DIPLOMAT ISLAM, JALAN PARA PEJUANG!!”*

KANKER BUKAN PENYAKIT, TETAPI BISNIS MILIARAN DOLAR...

KANKER BUKAN PENYAKIT, TETAPI BISNIS MILIARAN DOLAR...

Artikel di News Resque sempat menjadi viral di media sosial. Judulnya memang menghentak dan mengejutkan publik. Di sana tertulis “A Secret Has Been Uncovered: Cancer Is Not A Disease But Business!”.

Pada kata pembukaan artikel itu langsung ditulis kata yang menohok pula: The word called cancer is a lie… (Kata yang disebut kanker adalah sebuah kebohongan)

Baiklah, untuk selanjutnya, berikut ini disajikan terjemahan dari artikel tersebut yang ditulis di News Rescue:

Anda mungkin tidak percaya ini, tapi kanker bukanlah penyakit; itu adalah bisnis.

(Istilah) kanker telah menyebar luas; dan telah mempengaruhi tua, muda, bayi dan semua orang.

Membagikan artikel bagus ini akan mengekspos banyak pihak yang selama ini secara tersembunyi memanipulasi fakta mengenai kanker dan tentu saja artikel ini bakal mengganggu kenyamanan mereka.

Apakah Anda tahu bahwa buku Dunia Tanpa Kanker (World Without Cancer) hingga sekarang dicegah (oleh tangan-tangan tersembunyi) dari upaya penerjemahan ke banyak bahasa dunia?

Ketahulah: Tidak ada penyakit yang disebut kanker. Kanker timbul hanya karena terjadinya kekurangan vitamin B17. Tidak ada penyebab lainnya.

Hindarilah kemoterapi, operasi, atau mengonsumsi obat-obatan yang kenyataannya memiliki efek samping yang besar.

Anda tentu ingat bahwa di masa lalu, banyak pelaut kehilangan nyawa mereka karena penyakit kudis; yakni penyakit yang juga telah merenggut banyak orang juga. Dan sejumlah pihak mendapat keuntungan besar dari situasi itu. Belakangan ditemukan dan diketahui bahwa penyakit kudis itu hanyalah akibat dari kekurangan vitamin C. Artinya, kudis bukanlah penyakit.

Kanker juga seperti itu! Para penjajah dan musuh kemanusiaan itu mendirikan industri kanker dan membuatnya menjadi ladang bisnis. Dari usaha itu, mereka mendapatkan penghasilan dalam jumlah sangat besar.

Industri kanker berkembang setelah Perang Dunia II. Untuk melawan kanker, semua penderita langsung diarahkan untuk berobat ke pemilik industri kanker itu.

Senyatanya, pencegahan dan penyembuhan kanker bisa diperoleh hanya dengan cara berikut ini:

Mereka yang menderita kanker pertama-tama harus memahami apa itu kanker. Jangan panik! Anda harus menyelidiki dan mendalami kondisi yang Anda alami.

Berkaca pada kasus jaman dulu, maka saat ini tidak ada orang yang mati gara-gara penyakit yang disebut kudis. Tidak kan, iya. Sebab (penyakit) itu akan sembuh.

Ketahulah, bahwa kanker hanyalah kekurangan vitamin B17. Maka, dengan makan 15 sampai 20 biji buah aprikot setiap hari sudah cukup untuk Anda.

Makanlah kecambah gandum. Kecambah gandum adalah obat anti-kanker yang ajaib. Kecambah gandum merupakan sumber makanan yang kaya oksigen cair dan mengandung materi anti-kanker yang sangat kuat bernama laetrile. Laetrile juga ada di dalam biji buah apel dan merupakan bentuk ekstraksi dari vitamin B17 (amygdalin).

Industri obat Amerika telah membuat aturan hukum yang melarang produksi laetrile. Obat ini pun kemudian diproduksi di Meksiko untuk tujuan diselundupkan ke Amerika Serikat.

Dr Harold W. Manner, dalam buku “Death of Cancer” telah menyatakan bahwa keberhasilan pengobatan kanker dengan laetrile mencapai tingkat kesuksesan di atas 90%.

Sumber amygdalin (Vitamin B17)

Makanan yang mengandung vitamin B17 antara lain adalah:

– Inti atau biji buah-buahan. Biji buah-buahan merupakan sumber dari vitamin B17 tertinggi di alam. Termasuk di dalamnya adalah biji buah apel, aprikot, peach, pir, dan prune (plum kering).

– Kacang-kacangan dan jagung (biji-bijian), yang di dalamnya meliputi kacang, lentil kecambah (lentil bud), kacang lima dan kacang tanah.

– Kernels: Bitter Almond (sumber terkaya vitamin B-17 di alam) dan almond India.

– Mulberries: Hampir semua mulberry seperti murbei hitam, blueberry, raspberry dan strawberry.

– Biji-bijian seperti wijen dan biji rami (benih linen / biji rami).

– Menir gandum, barley, beras merah, menir blok gandum, biji rami, millet dan gandum hitam.

– Vitamin B17 juga ditemukan dalam biji-bijian dan biji buah aprikot, ragi, beras kasar (beras sawah) dan manisan labu.

Berikut ini daftar buah-buahan anti-kanker

Aprikot (kernel / biji)
Biji dari buah-buahan lainnya seperti apel, ceri, persik, plum, plum, pir
Kacang lima
Kacang fava
Wheatgrass
Kacang almond
Raspberi
Elderberry
Stroberi
Blackberry
Bluberi
Soba
Sorghum
Jelai
Jewawut
Kacang mete
Kacang macadamia
Tauge
Semuanya adalah sumber tertinggi dari vitamin B17 yang bisa diserap.

Menelan secara tidak sengaja cairan pencuci piring (yang digunakan di dapur) dan pencuci tangan cair (digunakan di kamar kecil) bisa menjadi faktor penyebab kanker utama. Dengan demikian, batasi penggunaannya.

Anda pasti akan mengatakan bahwa kita tidak mungkin makan cairan pencuci. Namun fajtanya banyak dari Anda yang sehari-hari mencuci tangan dengan sabun tangan cair dan mencuci piring dengan cairan pencuci piring.

Cairan yang terserap tidak akan pernah hilang meski kita sudah mencuci piring. Ketika memasak atau makan makanan, sabun yang ada di piring atau hidangan akan melekat saat makanan dipanaskan dan akhirnya tercampurlah cairan pencuci piring dengan makanan kita. Bahkan jika Anda bilas ratusan kali piring itu, usaha tersebut tidak ada gunanya.

Solusinya bagaimana? Tuangkan setengah bagian dari cairan pencuci piring dan pencuci tangan dengan setengah bagian cuka. Itu adalah solusi sederhana.

Yang jelas, dengan mencegah salah satu penyebab timbulnya kanker, maka Anda telah menyelamatkan keluarga dari bahaya kanker ini.

Demikian juga, berhentilah mencuci sayuran dengan cairan pencuci piring meski hanya setetes. Sebab, seberapa banyak pun Anda membilasnya, bahan kimia yang sudah memasuki jaringan sayuran tidak akan bisa dibilas.

Sebaliknya, rendam buah-buahan dan sayuran dengan garam dan kemudian bilas dengan air bersih. Agar tetap segar, tambahkan cuka.

Silakan berbagi posting ini dengan orang lain sehingga mereka juga bisa mendapatkan manfaat dari informasi ini.

https://simomot.com/2017/01/05/terbongkar-kanker-bukanlah-penyakit-tetapi-bisnis/

Belajar Dari Negara Turkey

Insyaa Allah Indonesia pun akan mmpunyai Pemimpin Muslim yg dicintai langit dan bumi.
Aamiin Ya Allah...

Turkey News

Berikut ini adalah catatan perjalanan Ketua Umum BAZNAS Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc saat mengunjungi Turki.

Cerita yang mengagumkan bukan tentang gemerlap kota Istambul yang mencolok terlihat dari pesawat apabila melintasi Eropa,
atau para wanitanya yang berwajah elok,
tapi tentang kehidupan relijius yang semakin pesat luar biasa.

Turki benar-benar berubah 180 derajat sejak dipimpin Presiden Erdogan.

Hal yang sangat menakjubkan adalah suasana keagamaan rakyat Turki yang begitu antusias.
Sekarang masjid-masjid sangat ramai dengan pemuda yang beribadah dan juga kegiatan keislaman. TERUTAMA yang paling mengagumkan adalah ketika waktu SHALAT SUBUH datang, masjid di Turki sangat penuh sesak dengan jamaah yang didominasi KAUM MUDA , suasana yang mirip dengan di Indonesia, pada shalat Jum'at.

Dr. Didin mengingat kembali ketika dirinya berkunjung ke Turki sekitar tahun 1990-an,
saat itu Turki masih sangat sekuler.
Jangankan waktu shalat subuh, dikala adzan maghrib pun tidak ada yang pergi shalat berjamaah.

"Saat itu saya shalat hanya dengan istri dan anak, sebab tiada jamaah setempat yang datang." jelas Dr Didin.

Luar biasa dan yang lebih mencengangkan para remaja Turki ke masjid dengan mobil-mobil mewah di parkir di halaman masjid” ungkapnya.

Selain tingkat religiusitas masyarakat Turki yang menjadi lebih baik, kondisi ekonomi Turki saat ini juga sangat berkembang pesat.
Tanpa bantuan pinjaman luar negeri pemerintah Turki sanggup membangun, membuat perubahan signifikan dan mampu bersaing dengan negara maju dunia.

Peringkat ekonomi Turki melompat tinggi sekali dari 111 menjadi peringkat 16 dunia,
sehingga saat ini Turki masuk daftar 20 negara kuat (G20).

Pendapatan perkapita penduduk pun naik dari $3.500 USD (2003)..
menjadi $11.000 USD (2013).. dan terus menanjak.

Pemerintah Turki sebelumnya serius mencanangkan 3 Program Nasional yaitu:

1⃣ Gerakan Shalat Subuh
     berjamaah di Masjid.
2⃣ Gerakan Infaq Sedekah.
3⃣ Gerakan Ekonomi Umat.

❤ Program terobosan GERAKAN shalat SUBUH berjamaah di MASJID memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat, dengan hasil mencengangkan.

Shalat subuh menjadi sangat ramai seperti  shalat jumat di Indonesia.
Tentu saja keberkahan shalat subuh berjamaah mendapatkan hasil di luar nalar, dibuktikan dengan teratasinya berbagai kesulitan nasional Turki yang sebenarnya tidak mudah, apalagi Eropa beberapa tahun lalu menderita krisis ekonomi.

Apa kabar dengan Indonesia kita.. ?!

Kapan negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim ini menjadi negeri yang berelijius tinggi.. ?!
Semoga tak lama lagi.

Tolong bantu bagikan agar banyak muslimin mengambil  manfaat, ibrah/pelajaran serta hikmah dari fenomena menarik ini.

❤ Jangan lupa bagikan info ini..
agar semua MUSLIM INDONESIA TERGERAK hatinya untuk melaksanakan SHUBUH berjamaah di MASJID,
karena Allah sendiri yang menjamin kehidupan orang-orang yang mau bergegas shalat berjam'ah dimasjid.

Dan shalat yang PALING  BERAT adalah shalat SHUBUH berjamaah di MASJID...

BELAJAR DARI GENOSIDA MUSLIM BOSNIA

Copas dari grup SAHABAT MUSLIM_11
••••••••••••••••••••••

*BELAJAR DARI GENOSIDA MUSLIM BOSNIA*
(Refleksi terhadap Toleransi Beragama)

Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya.

Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama.

Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi.

Dalam diary yang ditulis Zlatan Filipovic--seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia--diceritakan bagaimana sekulernya warga Muslim sebelum 1992. Pada masa itu, tak ada lagi wanita Muslim yang memakai kerudung. Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya.

Ketika hari raya agama, seperti Natal dan Lebaran Muslim, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga terbiasa dengan tradisi barat, seperti Valentine, April Mop, tahun baru, Halloween, dan sejenisnya. Sementara, shalat tak lagi dilakukan.

Muslim Bosnia--seperti Muslim Indonesia yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Buddha, dan animisme--berasal dari pengikut Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. Sementara, Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990.

Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan/atau pemeluk Islam.

Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnik. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam.

Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian kuburan massal.

Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memedulikan nilai-nilai Islam tersentak kaget mendapat serangan yang dimulai pada April 1992.

Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, dan merayakan Valentine bersama, kini meninggalkan mereka, bahkan berbalik menyerang dan membunuh mereka bersama tentara Serbia.

Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur terdengar desingan peluru yang menggema, ledakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. Dalam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka.

Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. Azan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun, mereka terlambat. Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim.

Gempuran yang terjadi membuat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun, zona itu hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman.

Medan pembantaian terbesar umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia tersentak. Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar menjadikan Soeharto melakukan operasi "berani mati" walau PBB menyatakan tak bisa menjamin keamanan kunjungannya.

Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di gudang dekat Desa Kravica.

Malang tak terbendung. Kabar yang berembus menyebut 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat.

Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang.

Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan. Namun, negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut genosida pertama di dunia.

Mantan presiden Republik Srpska (Serbia) Radovan Karadzic ditangkap pada 21 Juli 2008. Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia.

"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,'' demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, Jenderal Ratko Mladic, ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di Mahkamah Internasional.

Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara menjadi pelajaran bagi umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indonesia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.

Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadu domba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu.

Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.

Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Islam.

Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup damai dengan warga Arab dan Palestina.

Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan orang yang dimasukkan ke dalam masjid kemudian diberondong dengan peluru antitank.

Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam.

Dunia juga mencatat betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal dan terbuka oleh Buddha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya.

Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamais. Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya beberapa helai di balik kebaikan.

Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat gereja, masjid, dan sinagoge yang berdiri berdampingan.

Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, "Kejahatan yang terorganisasi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi" ...

xiaomi